Jumat, 10 Oktober 2014

kamu, bahagia yah :)

Pagi ini aku melihat kamu di ujung sana, kamu memperhatikanku?
Mungkin sudah lama, tapi aku baru menyadari dengan betul sekarang.
Kamu tahu? Sudah berapa kali aku ingin menyapa kamu lebih dulu.

“typing…” – delete.- “typing…” – delete!!!

Aku harus sadar diri, aku tidak boleh egois dengan perasaan ini. Aku takut mengganggu kamu pagi ini. Walau entah sebenarnya kamu menungguku untuk menyapamu atau tidak. Tapi, asal kamu aku sudah mencoba tapi aku takut sapaanku hanya mengganggu mood mu pagi ini.

Aku bingung harus mulai darimana tentang apa yang aku rasakan sekarang.
Rindu yang berbalas ini memang membuatku bahagia, tapi juga membuatku resah. Tidak munafik jika aku juga ingin kamu merindukanku, tapi sedih rasanya ketika tau kamu masih menyimpan sesak ketika mengingatku, ketika mengingat kita. Kenangan yang memang tidak begitu banyak, tapi mampu membuat kita bertahan sejauh ini.
Tuhan, aku yakin KAU tidak pernah berniat buruk terhadap hamba-MU termasuk dalam cerita ini. Aku juga tidak pernah keberatan dengan kerinduan yang sering KAU hadirkan pada seseorang yang tidak layak aku rindukan. Aku ikhlas, aku pun ikhlaskan kamu untuk menjadi milik orang lain karena-MU. KAU yang lebih tahu siapa yang akan membahagiakan kamu dan membahagiakan aku.

Mungkin kamu memang hanya akan indah dalam khayalku
Kamu akan indah ketika hanya aku miliki dalam mimpiku
Kamu akan indah ketika aku mengingatnya dalam diam.
Dan kamu, tidak perlu khawatir… bahkan ketika aku tidak lagi menulis tentangmu, tidak lagi bertanya kabarmu.. itu bukan berarti aku berhenti memikirkanmu, bukan berarti aku berhenti merindukanmu, bahkan bukan berarti aku berhenti menyayangimu.

Bahagialah, itu yang selalu aku harapkan. Harapan-harapan terbaik yang selalu aku tujukan padamu. Terkesan basi memang, tapi aku hanya menyuarakan apa yang ada dalam hatiku untukmu, tulus.
Tuhan, sampai kapan KAU jaga rasa ini untuknya? Aku tidak tahu, bahkan aku tidak mau tahu. Sejauh ini, rasa sayang ini tidak menyiksaku. Hanya saja aku takut, takut kamu yang tersiksa dengan perasaan ini. Aku menangis ketika mendengar kamu masih menyimpan rasa itu, aku bahagia tapi aku juga tidak rela jika kau harus terluka dengan perasaan ini. Aku takut perasaan ini terlalu menyesakkan batinmu, takut perasaan ini terlalu menyita waktu dan tenagamu. Lagi-lagi, aku hanya ingin kamu bahagia. Aku sayang kamu, entah sampai kapan. Aku bisa setiap saat merindukanmu, kemudian aku alihkan rasa rindu ini dengan hal-hal lain yang kadang berhasil tapi tak jarang juga gagal.

Tuhan, jaga dia untukku. Kuatkan dia dalam kelemahannya. Sehatkan dia. Bahagiakan dia, sematkan selalu senyuman untuknya. Meski aku berharap menjadi alasannya bahagia dan tersenyum, tapi itu sudah tidak mungkin. Maka, aku pasrahkan semua ini pada-MU

Sabtu, 04 Oktober 2014

Malam dan Kamu

Pergi keluar dalam keadaan malam memang terkadang membuatku malas, ada banyak hal yang membuat aku dengan mudah mengenangmu. Gelap adalah waktu yg lbh banyak aku habiskan utk bercanda tawa denganmu dalam suara, tanpa bertatap muka. Dan bintang, adalah cara kita memastikan bahwa kita berada dalam satu naungan langit yg sama. Walaupun mungkin dalam sudut yang berbeda.

Malam ini aku dapat dengan jelas mengingat itu semua walau sudah lama, aku merindukan semua itu. Merindukan canda kamu, tawa kamu dan cara kamu menyayangi aku. Kenapa aku baru menyadari semua kegilaan yg kamu lakukan hanya untuk aku? Hanya untuk memastikan bahwa kamu memang mencintai aku, iya hanya untuk aku. 
Maaf aku baru menyadarinya setelah kamu benar-benar tak mungkin kembali. Ada banyak hal yg kamu ajarkan.. tentang ketulusan, apa adanya, tentang hidup dan tentang cinta.

Ini cara aku mengenangmu, dengan malam.. dengan bintang.. bahkan dengan langit yg kosong, kamu ada. Kamu selalu ada, entah sampai kapan. 


Hey kamu, terimakasih ya.. terimakasih utk malam yg tak pernah kau lwtkan utk mendengarkan ocehanku. Terimakasih untuk ratusan malam yg kamu habiskan brsamaku, walau tak jarang kau tertidur karena memang sebenarnya kau butuh istirahat setelah seharian bekerja. Bahkan dalam keadaan sakit kau masih ingin melewatkannya bersamaku. Cara dan sikap kamu yg membuatku bertahan dengan kenangan ini, cuma kamu. 

Malam ini juga menyapaku tentang satu hal yg belum pernah atau bahkan tak pernah terjadi. Aku ingin bertemu kamu, sekali lagi. Iya, hanya sekali saja tidak lebih tapi tidak juga kurang. Aku ingin memastikan mata kita kembali menatap satu sama lain. Aku ingin mendengar secara langsung apa yang kamu rasakan dulu hingga detik ini. 

Aku ingin memastikan bahwa kisah kita memang pernah benar-benar ada. Bahwa memang hati kamu dan hati aku pernah benar2 saling jatuh dalam nuansa yg indah, yg mereka sebut cinta. 

Aku menyukai cara kamu menyayangi aku. 
Terimakasih pernah singgah, aku tahu.. di hati kamu selamanya akan ada aku, dan perlukah kamu aku yakinkan bahwa di hati ini selalu ada tempat untuk kamu?? Rasanya tidak, karena kamu bisa dengan jelas merasakan rasa ini.

Senin, 29 September 2014

Aku memilih memendam, sendirian

Malam ini, entah kenapa rasanya ingin berdiam diri di kamar saja. Mengasingkan diri dari keluarga kecilku yang sedang asyik menonton acara televisi. Aku menatap layar handphone, melihat social media dan juga blackberry messenger ku. Ah… dia jarang sekali update, padahal aku ingin tau apa yang sedang dia lakukan bahkan mungkin apa yang saat ini dia resahkan. Rindu, lebih sering muncul akhir-akhir ini. Entah kenapa aku memilih memendam ini sekian tahun, ya.. menahun rasa ini aku pendam sendiri. Aku mencoba berpura-pura tidak mempunyai sedikit pun rasa suka padanya. Banyak hal yang membuatku melalukan ini, salah satunya adalah aku hanya seorang wanita. Kamu pasti bilang, “udah ga jaman lagi cewe mendem perasaan. Ngomong ajah”. Tapi cinta emang ga semudah itu, atau mungkin memang aku sendiri yang mempersulit. Entahlah, aku hanya takut kalau ternyata rasa sayang ini benar-benar rasa sayang satu arah. Oleh karena itu, aku lebih baik memendam ini sendiri.

Terkadang rasa ini memuncak, seperti malam ini. Ingin sekali rasanya aku menghubungimu hanya untuk menyatakan “apa kabar?”. Padahal itu bukan hal yang aneh untuk seorang teman bertanya kabar bukan? Tapi entah kenapa itu begitu terdengar aneh dan sulit untukku. Gengsi kah? Mungkin saja..
Ahh… wanita, kenapa kamu memperumit dirimu sendiri?
Mencintaimu dalam diam, memang buat sesak dada. Menahan rindu yang begitu bertumpuk-tumpuk sejak bertahun lalu. Hello pria disana, apa memang kamu tidak bisa menangkap signal-signal kesukaanku terhadapmu? Atau kamu hanya berpura-pura tidak tahu?
Aku menunggu… menunggu kamu menyadari signal-ku dan kemudian menghampiriku untuk memastikan bahwa kau juga memiliki rasa yang sama. Atau, aku menunggu.. menunggu rasa ini lelah dan lenyap dengan sendirinya. Entahlah…
Malam ini aku hanya ingin sendiri dan bersama kamu, dalam mimpi…

Sabtu, 27 September 2014

GELAP

Aku tidak pernah menyangka sebelumnya, aku ada disini sekarang. Dititik ini, dititik dimana semua terasa seperti angka nol (0), kosong.. hampa… tak tau apa yang aku mau dan apa yang aku cari.
Mungkinkah karena aku terlalu lelah?
Mungkinkah karena aku terlalu percaya sebelumnya?
Entah apa yang sebenarnya menjadi alasanku menjadi seperti ini. Aku menjadi pecundang yang sudah takut terluka, yang sudah takut untuk dikecewakan. Yah, aku pecundang. Aku ingin jatuh cinta, merah merona saat mengingat seseorang yang aku cintai. Aku ingin merasakannya lagi. Tapi kamu tahu? Disisi lain aku terlalu takut jatuh, aku terlalu takut sakit lagi.
“How can I love, when am afraid to fall?” –thousand years

Gimana bisa aku jatuh cinta, kalau aku sendiri……
Tuhan, kaulah penggenggam hatiku. Kau yang tahu percis apa yang aku rasakan sekarang. Rasa lelah dan rasa sulit percaya lagi pada cinta. Terkadang aku bisa berkata, “jalani saja..”. tapi disaat yang lain, aku membutuhkan kepastian. Bukan hanya kepastian dari kisah ini, tapi dari diriku sendiri. Apakah ini cinta atau bukan? Aku takut melukai hati oranglain ketika aku sendiri belum bisa tegak lagi untuk berdiri. Bahkan untuk mengenali rasa sayang atau hanya sekedar butuh sandaran saja aku tidak tahu.
Apa memang rasa sakit ini terlalu dalam, atau mungkin rasa sakit ini terlalu sering mampir??
Aku sadar, bahwa waktu terus berjalan dan tak pernah menunggu siapapun. Apalagi menunggu seorang pecundang seperti aku. Aku mencoba bangkit dan meyakinkan bahwa aku bisa lagi mencintai, tapi aku tidak bisa berbohong bahwa aku belum yakin.

Entah kapan dan siapa yang akan meyakinkanku, bahwa cinta memang ada dan tak pernah lagi menyakiti. Ini soal waktu dan harapan yang baru….

Cinta tidak pernah egois

Iya, kamu. Kamu yang sempat menjadi anganku, yang aku harapkan bisa menjadi pelabuhan terakhirku. Walau saat itu, banyak orang yang menilai sebelah mata, dan meragukannya. Aku tetap yakin, kamu. Waktu terus berjalan, hingga aku dan kamu semakin dekat. Hingga aku dan kamu tak ada lagi jarak. Keadaan ini semakin meyakinkan aku, bahwa kamu adalah yang terakhir. Semua sikap dan sifat keras kepala kamu, selalu aku maafkan. Dan aku selalu menemukan alasan untuk tetap bertahan. 
Bukan hal yang jarang kamu meminta kita mengakhir segalanya ketika ego kamu sudah mulai di ubun-ubun. Aku menangis, dan aku mencoba meyakinkan bahwa hanya kamu yang aku mau. Tidak jarang kamu keras kepala, dan seperti yang orang bilang.. aku harus menyikapi dengan tenang. Perselisihan seperti ini memang sering, tapi selalu bisa diselesaikan walau dengan drama yang bercucuran air mata. Aku bertahan, iyah aku. Sampai akhirnya aku sadar satu hal, kenapa harus selalu aku yang bertahan dan berjuang? Iya, kenapa?
Kenapa saat aku mencoba pergi, kamu hanya diam? Ternyata cinta yang kamu punya tak seindah ucapan dan janji kamu, atau bahkan lagu yang sering kamu mainkan untuk meyakinkan aku. Aku menyerah, aku menghentikan langkahku terhadapmu.
Aku mengalah bukan berarti kamu bisa terus menjaga ego kamu. Aku mengalah bukan berarti kamu terus bisa melakukan apa yang kamu mau tanpa memikirkan aku. Aku diam dan bersabar bukan berarti kamu bisa menyakitiku dengan alasan rasa sayang. Bukan…

Maaf jika aku akhirnya memilih mengakhiri. Kamu terlalu sibuk dengan keegoisanmu. Cinta bukan hanya menerima apa adanya. Tapi juga mau belajar untuk melengkapi, untuk menjadi yang terbaik satu sama lain. Tidak seperti ini, kamu yang terus egois dan aku yang selalu mengalah. Dan parahnya sampai saat aku pergi pun, kamu tetap tidak menyadari ini atas kesalahanmu, kamu tetap mencari-cari kesalahan oranglain. Kamu tahu? Itu hanya menegakkan langkahku untuk melangkah ke depan, dan tidak akan pernah berbalik, tidak akan.