Beberapa
hari yang lalu, hati aku terasa begitu lelah. Lelah untuk mencoba mengerti
bahwa aku harus terus mengerti keadaan kamu. Aku bertanya pada diriku, sebodoh
inikah cinta? Setolol inikah sayang?Aku
bertahan pada ranting yang semu, yang terlihat dapat menguatkan namun ternyata
ranting itu sendiri rapuh.Aku
menangis, menyadari betapa perih hati ini yang kau anggap salah. Rasa ini yang
mungkin kau anggap tak wajar. Dalam hal mencintaimu saja, aku sudah salah. Tapi
kamu yang mengajakku untuk begitu dalam tenggelam bersama lautan kasih dan
sayang yang kamu beri dan kamu bagi. Aku mencoba membuat keadilan untuk hatiku,
namun kamu hanya terdiam. Keadaan pun berbalik, kamu menganggap aku berlebihan.
Iyah, aku mungkin terlalu berlebihan jika terus berharap pada kesemuan cintamu.Raga dan
hati mulai bekerja sama untuk membuat keputusan, mendamaikan kesal dan cacian
menjadi sebuah senyuman. Namun kamu sepertinya sudah terlampau lelah, sehingga
kemudian lenyap. Mentari pagi, membuat semangatku kembali. Semangat untuk
menyambut senyuman kamu yang memang selalu mampir.Mentari
ini ternyata mampu mencairkan rasa kesal dan cacianku. Walau dengan begitu aku
harus mengabaikan keadilan yang aku perjuangkan. Walau dengan begitu aku harus
membatasi amarahku. Walau dengan begitu aku harus tidak bersikap adil dengan
hatiku. Aku dan kamu pun kembali menjadi kita.Kali
ini aku belajar hal yang baru untuk hatiku. Belajar membatasi amarah dan
cacianku, meski memang itu menyakitkan sekalipun.
Rabu, 07 Januari 2015
Rabu, 05 November 2014
Be Quiet!
Masa kecil yg bahagia.. sempat aku merasakannya. Berbagi cerita, berbagi tawa, membuat kue bersama. Meski ketika balita aku bukan di asuh oleh kedua orgtua ku, tp kemudian aku merasa menjadi anak kecil yg paling bahagia. Setiap malam nenek mendongengkan sebuah cerita, tanpa malu memperagakan apa yg beliau ceritakan "si kancil yg cerdik" meski sering diulang, aku tetap suka :)
Kemudian, KAU hadirkan seorang adik kecil yg memang aku nantikan. Rasanya, aku semakin lengkap. Semua terkabul.
Waktu brjalan, menempatkanku pada keadaan baru. Keadaan yg membuat semua berubah, terbalik. Ini seperti mimpi buruk. Semua hancur, entah karena apa. Terlalu rumit untuk aku cari tau awalnya. Semua terjadi di depan mata. Bentakan itu, tamparan.. semua yg mengerikan, aku melihat sendiri. Iya, sendiri. Kakakku menuntut ilmu di pesantren, sedangkan adikku msh kecil. Aku brusaha menjadi seorang kakak dan anak yg baik dalam tekanan yg begitu dahsyat, untuk adikku. Sampai akhirnya, hari itu tiba. Adikku diambil. Masa sekolah yg tadinya membanggakan, berubah menjadi hancur. Sekolah dasar, teman-temanku banyak yang bertanya tentang apa yg sebenarnya terjadi "ga ada apa2, semua masihh sama. Semua baik-baik saja" jawabku.
Aku melemah, tenagaku terkuras. Aku marah dengan keadaan bahkan lebih parahnya aku marah padaMU. Tapi, kau memberiku kesempatan untuk melangkah saat aku benar-benar putus asa. Saat benar-benar ingin pergi dan menghilang dari dunia. KAU menghadirkanku kembali. Waktu terus berjalan, semua memburuk, ekonomi.. keluarga.. dan keadaan.
Rumah mungil ini tak seindah dulu, tak senyaman dulu. Rumah ini tetap gelap walau dengan lampu yang berkualitas. Rumah ini begitu dingin. Hanya ada hening dan suara isakan. Aku yang harus kuat untukmu, mah. Manusia memang selalu punya pilihan. Seperti saat ini, pilihan menjadi kuat atau lemah. Dan aku memilih berpura-pura kuat sampai aku lupa bahwa aku sedang berpura-pura. "Teh, kuatin mama.. peluk mama.. lebaran ini serasa sepi. Kita cuma berdua, kita harus menguatkan" mama berkata padaku, aku hanya diam sambil memeluknya.. "iya ma, kita harus bergantian menjadi penerang utk yg lain. Kita bisa" aku meyakinkan dalam hati. Hari ini kami berpelukan dalam tangis.
Semua berjalan begitu menyesakkan. Berjalan dengan rentetan yang tak pernah aku duga sebelumnya, dan aku harus kuat.
Rumah mungil ini tak seindah dulu, tak senyaman dulu. Rumah ini tetap gelap walau dengan lampu yang berkualitas. Rumah ini begitu dingin. Hanya ada hening dan suara isakan. Aku yang harus kuat untukmu, mah. Manusia memang selalu punya pilihan. Seperti saat ini, pilihan menjadi kuat atau lemah. Dan aku memilih berpura-pura kuat sampai aku lupa bahwa aku sedang berpura-pura. "Teh, kuatin mama.. peluk mama.. lebaran ini serasa sepi. Kita cuma berdua, kita harus menguatkan" mama berkata padaku, aku hanya diam sambil memeluknya.. "iya ma, kita harus bergantian menjadi penerang utk yg lain. Kita bisa" aku meyakinkan dalam hati. Hari ini kami berpelukan dalam tangis.
Semua berjalan begitu menyesakkan. Berjalan dengan rentetan yang tak pernah aku duga sebelumnya, dan aku harus kuat.
Jumat, 10 Oktober 2014
Bisakah aku kembali, seperti kamu?
Kamu masih sehangat yang dulu, bahkan lebih hangat. Kamu kembali,
kembali menjadi kamu yang dulu aku kenal. Aku bahagia, kamu terus berusaha
membuat aku kembali percaya bahwa kita bisa seperti dulu. Aku tersenyum,
mencoba untuk bisa mengulangi semuanya dari awal. Mencoba bisa menjadi kita
yang dulu bahagia tanpa jeda. Tapi aku selalu gagal, rasa lelah ini memang
sudah memuncak sepertinya. Senyum dan tawa kamu seperti sudah hambar untukku.
Semua
sudah berubah, mungkin termasuk rasaku untukmu. Jangan.. jangan salahkan aku
yang kini sulit untuk kembali membangun mimpi bersama kamu. Aku pernah mencoba,
tapi aku tidak bisa. Sekarang, aku pun sedang mencoba membangun harapan kita. Sulit,
ini amat terasa sulit. Aku mencoba tersenyum ke arahmu, tapi aku tak bisa
menyembunyikan luka yang telah kamu buat begitu dalam. Mungkin bukan karena
luka ini besar, tapi terlalu sering kamu kasih buat aku. Luka yang mengikis
perlahan, luka yang hampir sembuh lalu kau torehkan lagi. Kau torehkan
berulang-ulang, sehingga menembus hatiku yang paling dalam (tsaaah :D)
Aku tidak berkata bahwa kamu tidak pernah membuatku bahagia,
bahkan kamu berhasil membuatku bahagia dan membuat ku bertahan sejauh hari-hari
kemarin yang menjadi milik kita. Tapi kebahagiaan itu seolah semu ketika aku
tahu semuanya. Tapi justru kebahagian itu yang berhasil membuatku terbang
begitu tinggi untuk kemudian terhempas dengan kencang ke bumi, remuk.
Bagaimana mungkin kamu bisa membahagiakan dua orang dalam
waktu yang bersamaan, mungkin beda selisih.. tapi itu terlalu sedikit jika aku
bandingkan. Kamu memang baik, selalu ada.. bahkan mungkin kamu yang terbaik
yang bisa aku andalkan. Kamu berhasil menciptakan mimpi-mimpi ku untuk
menghabiskan sisa hidupku bersamamu.
Tapi sekarang??
Entahlah.. aku tidak bisa berjanji apa-apa terhadap apa yang
sedang kamu perjuangkan. Aku masih sulit untuk kembali menerima. Aku ikhlas
dengan luka ini, aku memaafkan semuanya. Tapi itu bukan berarti kita bisa
bersama lagi dan menoreh cerita lagi kan?
kamu, bahagia yah :)
Pagi ini aku melihat kamu di ujung sana, kamu memperhatikanku?
Mungkin sudah lama, tapi aku baru menyadari dengan betul
sekarang.
Kamu tahu? Sudah berapa kali aku ingin menyapa kamu lebih
dulu.
“typing…” – delete.- “typing…”
– delete!!!
Aku harus sadar diri,
aku tidak boleh egois dengan perasaan ini. Aku takut mengganggu kamu pagi ini. Walau
entah sebenarnya kamu menungguku untuk menyapamu atau tidak. Tapi, asal kamu
aku sudah mencoba tapi aku takut sapaanku hanya mengganggu mood mu pagi ini.
Aku bingung harus mulai darimana tentang apa yang aku
rasakan sekarang.
Rindu yang berbalas ini memang membuatku bahagia, tapi juga
membuatku resah. Tidak munafik jika aku juga ingin kamu merindukanku, tapi
sedih rasanya ketika tau kamu masih menyimpan sesak ketika mengingatku, ketika
mengingat kita. Kenangan yang memang tidak begitu banyak, tapi mampu membuat
kita bertahan sejauh ini.
Tuhan, aku yakin KAU tidak pernah berniat buruk terhadap
hamba-MU termasuk dalam cerita ini. Aku juga tidak pernah keberatan dengan
kerinduan yang sering KAU hadirkan pada seseorang yang tidak layak aku
rindukan. Aku ikhlas, aku pun ikhlaskan kamu untuk menjadi milik orang lain
karena-MU. KAU yang lebih tahu siapa yang akan membahagiakan kamu dan
membahagiakan aku.
Mungkin kamu memang hanya akan indah dalam khayalku
Kamu akan indah ketika hanya aku miliki dalam mimpiku
Kamu akan indah ketika aku mengingatnya dalam diam.
Dan kamu, tidak perlu khawatir… bahkan ketika aku tidak lagi
menulis tentangmu, tidak lagi bertanya kabarmu.. itu bukan berarti aku berhenti
memikirkanmu, bukan berarti aku berhenti merindukanmu, bahkan bukan berarti aku
berhenti menyayangimu.
Bahagialah, itu yang selalu aku harapkan. Harapan-harapan
terbaik yang selalu aku tujukan padamu. Terkesan basi memang, tapi aku hanya
menyuarakan apa yang ada dalam hatiku untukmu, tulus.
Tuhan, sampai kapan KAU jaga rasa ini untuknya? Aku tidak
tahu, bahkan aku tidak mau tahu. Sejauh ini, rasa sayang ini tidak menyiksaku. Hanya
saja aku takut, takut kamu yang tersiksa dengan perasaan ini. Aku menangis
ketika mendengar kamu masih menyimpan rasa itu, aku bahagia tapi aku juga tidak
rela jika kau harus terluka dengan perasaan ini. Aku takut perasaan ini terlalu
menyesakkan batinmu, takut perasaan ini terlalu menyita waktu dan tenagamu. Lagi-lagi,
aku hanya ingin kamu bahagia. Aku sayang kamu, entah sampai kapan. Aku bisa
setiap saat merindukanmu, kemudian aku alihkan rasa rindu ini dengan hal-hal
lain yang kadang berhasil tapi tak jarang juga gagal.
Tuhan, jaga dia untukku. Kuatkan dia dalam
kelemahannya. Sehatkan dia. Bahagiakan
dia, sematkan selalu senyuman untuknya. Meski aku berharap menjadi alasannya
bahagia dan tersenyum, tapi itu sudah tidak mungkin. Maka, aku pasrahkan semua
ini pada-MU
Sabtu, 04 Oktober 2014
Malam dan Kamu
Pergi keluar dalam keadaan malam memang terkadang membuatku malas, ada banyak hal yang membuat aku dengan mudah mengenangmu. Gelap adalah waktu yg lbh banyak aku habiskan utk bercanda tawa denganmu dalam suara, tanpa bertatap muka. Dan bintang, adalah cara kita memastikan bahwa kita berada dalam satu naungan langit yg sama. Walaupun mungkin dalam sudut yang berbeda.
Malam ini aku dapat dengan jelas mengingat itu semua walau sudah lama, aku merindukan semua itu. Merindukan canda kamu, tawa kamu dan cara kamu menyayangi aku. Kenapa aku baru menyadari semua kegilaan yg kamu lakukan hanya untuk aku? Hanya untuk memastikan bahwa kamu memang mencintai aku, iya hanya untuk aku.
Maaf aku baru menyadarinya setelah kamu benar-benar tak mungkin kembali. Ada banyak hal yg kamu ajarkan.. tentang ketulusan, apa adanya, tentang hidup dan tentang cinta.
Ini cara aku mengenangmu, dengan malam.. dengan bintang.. bahkan dengan langit yg kosong, kamu ada. Kamu selalu ada, entah sampai kapan.
Hey kamu, terimakasih ya.. terimakasih utk malam yg tak pernah kau lwtkan utk mendengarkan ocehanku. Terimakasih untuk ratusan malam yg kamu habiskan brsamaku, walau tak jarang kau tertidur karena memang sebenarnya kau butuh istirahat setelah seharian bekerja. Bahkan dalam keadaan sakit kau masih ingin melewatkannya bersamaku. Cara dan sikap kamu yg membuatku bertahan dengan kenangan ini, cuma kamu.
Malam ini juga menyapaku tentang satu hal yg belum pernah atau bahkan tak pernah terjadi. Aku ingin bertemu kamu, sekali lagi. Iya, hanya sekali saja tidak lebih tapi tidak juga kurang. Aku ingin memastikan mata kita kembali menatap satu sama lain. Aku ingin mendengar secara langsung apa yang kamu rasakan dulu hingga detik ini.
Aku ingin memastikan bahwa kisah kita memang pernah benar-benar ada. Bahwa memang hati kamu dan hati aku pernah benar2 saling jatuh dalam nuansa yg indah, yg mereka sebut cinta.
Aku menyukai cara kamu menyayangi aku.
Terimakasih pernah singgah, aku tahu.. di hati kamu selamanya akan ada aku, dan perlukah kamu aku yakinkan bahwa di hati ini selalu ada tempat untuk kamu?? Rasanya tidak, karena kamu bisa dengan jelas merasakan rasa ini.






