Jumat, 16 Oktober 2015

Semoga Suatu Hari Nanti

Nyonya..
Aku berharap suatu saat, kelak kau kan menyadari.. Bahwa jauh sebelum ini, ada sepasang mata yang basah menangisi putra kesayanganmu.
Ada sepasang tangan yang selalu sedia mengulurkannya untuk menggenggam erat putra kesayanganmu.
Ada sepasang telinga yang selalu setia mendengarkan cerita dari putra kesayanganmu.
Semoga kelak nyonya mengerti, ada wanita lain yang dengan tulus menyayangi putra kesayanganmu. Tanpa pernah nyonya minta sebelumnya, tanpa pernah nyonya tau sebelumnya.
afikahana.files.wordpress.com
Dan wanita itu pun hanya mampu menyimpannya, karena wanita ini memang begitu tersembunyi. Hanya Tuhan yang setia mendampinginya. Mendampingi kebodohan hatinya yang menyayangi putra mu yang begitu jauh untuk di genggam dalam kenyataan.
Nyonya, terimakasih sudah melahirkan pria menggemaskan ini.
Aku menyayanginya, dari dulu dan entah sampai kapan.
Nyonya, semoga setiap tangis dalam doa ini mampu menyampaikan apa yang tak dapat tersampaikan.

Haruskah?

Aku menyayangimu..
Haruskah aku mengatakannya?
Lalu, masih haruskah aku menjelaskan rasa sakit ini?
Masih haruskah aku menjelaskan bagaimana perasaanku?
Masihkah? Haruskah?
Setelah semua detik yang aku habiskan hanya untuk memikirkanmu?
Setelah semua detik yang aku lewatkan hanya untuk membuatmu bahagia?

Apakah Kita Nyata?

Jika kau mengartikan sebuah pertemuan adalah awal kebahagiaan. Lalu berikan aku alasan, kenapa Tuhan mempertemukan kamu dengan aku?
Lalu kenapa Tuhan membiarkan aku dekat denganmu?
Lalu kenapa Tuhan membiarkan aku menyayangimu, sebodoh ini?
Beritahu aku, kenapa?

Bukankah Tuhan Maha Baik, sang pengatur rencana yang maha indah.
Bukankah dia sutradara terbaik dengan skenarioNya?


Aku menyayangi kamu sejak saat itu.
Apakah kamu masih mengingat bagaimana aku selalu memperhatikanmu?
Apakah kamu masih mengingat bagaiamna aku selalu mengkhawatirkanmu?
Apakah kamu masih mengingat bagaimana Tuhan mendekatkan kita, dan menjadikan kita ada?

Dan apakah kamu masih mengingat, bagaimana jatuh bangunnya aku agar kata kita selalu ada?

Pernahkah kamu mencoba memposisikan dirimu sebagai aku?
Aku yang harus dengan tabah menunggu kabarmu yang lenyap karena kamu sibuk dengan rutinitasmu, atau karena kamu sibuk dengan .... ah sudahlah, mungkin kamu tidak akan pernah mengerti.


Jumat, 09 Oktober 2015

Bagaimana jika

Bagaimana jika suatu hari nanti, aku berhenti menyebut namamu dalam doaku?
Bagaimana jika suatu hari nanti, aku berhenti mengkhawatirkan keadaanmu?
Bagaimana jika suatu hari nanti, aku berhenti memperhatikan sepasang bola matamu?
Bagaimana jika suatu hari nanti, aku melepas genggaman tanganmu?

Bagaimana jika kini, aku sudah jemu dan jengah?
Bagaimana jika kini, ada nama lain yang aku sebut dalam doa ku?
Bagaimana jika mulai saat ini kamu tergantikan dengan dia yang lain?


Sikapmu, membuatku ingin menjauh.
Membuatku ingin berhenti mengejar segala kesemuan.
Membuatku ingin segera tersadar dari lamunan panjangku tentang kita.

Lalu, bagaimana jika saat itu tiba?
Saat dimana tak lagi ku rindukan dirimu segila ini, saat tak lagi ku tunggu kabarmu selarut ini?
Dan saat tak lagi ingin ku melihat senyummu..

Kamis, 08 Oktober 2015

Wanita selalu benar

Bahwa bukan hanya wanita yang butuh di mengerti, lelaki pun.
Bahwa bukan hanya wanita yang butuh perhatian, lelakipun
Bahwa bukan hanya wanita yang butuh diberikan kasih sayang, lelakipun
Bahwa bukan hanya wanita yang ingin dijadikan satu satunya, lelaki pun


Mereka sama sepertimu, membutuhkan kasih sayang dan perhatian
Mereka sama sepertimu, membutuhkan rumah untuk pulang.
Mereka sama sepertimu, mempunyai masalah dan ingin di dengarkan
Mereka sama sepertimu, ingin dijadikan satu satunya.

Wanita dan lelaki sama, sama sama punya hati :)

Wahai wanita, perhatikanlah lelakimu. sama seperti kamu yang ingin diperhatikan olehnya.
Wahai wanita dengarkanlah keluhnya, sama seperti ketika kamu ingin didengarkan olehnya.
Wahai wanita, perlakukanlah dia sebagaimana kamu ingin diperlakukan olehnya.