Kamis, 08 Oktober 2015

Wanita selalu benar

Bahwa bukan hanya wanita yang butuh di mengerti, lelaki pun.
Bahwa bukan hanya wanita yang butuh perhatian, lelakipun
Bahwa bukan hanya wanita yang butuh diberikan kasih sayang, lelakipun
Bahwa bukan hanya wanita yang ingin dijadikan satu satunya, lelaki pun


Mereka sama sepertimu, membutuhkan kasih sayang dan perhatian
Mereka sama sepertimu, membutuhkan rumah untuk pulang.
Mereka sama sepertimu, mempunyai masalah dan ingin di dengarkan
Mereka sama sepertimu, ingin dijadikan satu satunya.

Wanita dan lelaki sama, sama sama punya hati :)

Wahai wanita, perhatikanlah lelakimu. sama seperti kamu yang ingin diperhatikan olehnya.
Wahai wanita dengarkanlah keluhnya, sama seperti ketika kamu ingin didengarkan olehnya.
Wahai wanita, perlakukanlah dia sebagaimana kamu ingin diperlakukan olehnya.

Gadisku

Aku melihat matanya, menatap penuh tentang cinta yang telah diberikan
Betapa sering aku membuat mata itu menangis, tapi betapa sering mata itu malah memberikanku tatapan yang manis
Betapa sering aku mengabaikan kabarnya, tapi betapa sering dia tertidur hanya untuk menunggu kabarku
Betapa sering tangan ini menggenggam tangan yang lain ketika tidak bersamanya, tapi dia hanya membolehkan aku satu satunya yang menggenggam tangannya.
Betapa sering aku mengacuhkannya karena aku sibuk dengan dia yang lain, tapi dia selalu memberikan sepenuh waktunya untukku, kapanpun, dimana pun.
Betapa sering aku menyakitinya karena harus membagi waktuku dengan dia yang lain, dan dia selalu memberikan senyum yang tulus, perhatian yang tulus, kasih sayang yang tulus.
Kamu tahu?
Mungkin di dunia ini hanya akan ada dua wanita dalam kehidupanku yang dapat melakukannya. Hanya kamu dan ibuku.
Betapa beruntung aku mendapatkannnya, betapa beruntung aku menemukannya.

Dia bukan seorang hakim yang dengan mudah menghukumku, dia selalu bertanya semuanya.. mendengarkan penjelasannya, betapa telinganya dengan tabah menjelaskan cerita ku yang tak jarang malah menyakitinya.
Entah hatinya terbuat dari apa, entah matanya terbuat dari apa, entah bibir yang selalu tersenyum itu mempunyai kekuatan apa dan darimana. 
Aku menyayanginya, hatinya yang tulus.

Seharusnya aku tau, kali itu adalah terakhir kali aku bisa menatap matanya
Seharusnya aku tau, kali itu adalah terkahir kali aku bisa mendengar suaranya
Seharusnya aku tau, kali itu adalah terakhir kali aku bisa leluasa memeluk tubuhnya
Seharusnya aku tau, kali itu adalah terakhir kali aku bisa memilikinya.

Seharusnya aku tau. Seandainya aku tau.

Entah di kehidupan kapan aku akan bertemu dengan gadis sepertinya lagi.
Entah di kehidupan mana aku akan bertemu dengan gadis sesayang dan setulus ini.
Andai waktu dapat ku putar, ku jadikan kau satu satunya.
Andai kau yang gini ku genggam, tak akan pernah lagi aku mau berbagi jemari.
Andai kau yang aku lihat ketika membuka mata, andai..
Maafkan aku atas segala kebodohanku. Maafkan aku yang hanya berjalan mengikuti takdir.

Maafkan aku yang sedikit memperdulikanmu, maafkan aku.

Love in Life

Akan selalu ada langkah kaki yang lelah melangkah
Akan selalu ada mata yang jenuh meneteskan air mata
Akan selalu ada sepasang tangan yang merindukan genggaman
Akan selalu ada kepala yang merindukan bahu untuk bersandar
Akan selalu ada yang merindukan suara hanya untuk menenangkan
Akan selalu ada kerinduan pada setiap hal, pada setiap kenangan.

Akan selalu ada ruang untuk seseorang yang mampu memberi arti
Akan selalau ada ruang untuk seseorang yang mampu membuat kita selalu merasa pulang
Kita, bukanlah manusia superior yang mampu berdiri di telapak kaki sendiri selamanya
Kita, bukanlah manusia dengan kekuatan superhero yang mampu melakukan semuanya sendiri
Kita, adalah makhluk yang memmbutuhkan jemari tangan lain untuk menguatkan
Dan kita semua pernah merasa lemah, wajar kita manusia.


Semua hal yang menyakitkan dan membuat luka adalah untuk menyadarkan bahwa kita lemah dan kita manusia.
Dan bahwa, kita membutuhkan Tuhan

Senin, 28 September 2015

Untitled

Nyonya, bisakah kau sedikit saja belajar menghargai oranglain?
Bisakah kau sedikit saja belajar mengerti perasaan oranglain?
Aku mencoba mengerti tentang takdirmu yang tiba tiba saja datang dan merampas semuanya.
Aku mencoba belajar menghargai semua kejadian yang menyisakanku seorang diri.
Lalu bisakah kau mencoba mengerti tentang takdirku?
Bisakah kau membayangkan rasanya jadi aku?
Yang baru saja kehilangan orang yang selama ini aku perjuangkan?
Yang baru saja kehilangan orang yang selama ini aku sebut namanya dalam doa?
Bisakah?

Atau setidaknya sedikit saja menghargai pertemanan aku dengannya, bisakah nyonya?

Selasa, 22 September 2015

how i call this feeling?

Aku masih mengingat malam yang menjadikan kita ada. Kamu yang datang dengan tiba-tiba, setelah sebelumnya berkali-kali aku mengabaikan senyumanmu di ujung lelahku.

Aku masih mengingat malam yang berbalut khawatir ketika kamu tak kunjung memberiku kabar. Iya, aku khawatir.. tapi entah apa dan kenapa kamu masih bisa tertidur lelap tanpa memberi kabar untukku. Sakit memang, tapi tahu bahwa kamu baik-baik saja..  itu cukup untuk membuat ku kembali tersenyum.

Aku masih mengingat hari yang berbalut cemburu ketika kamu membagi genggaman tanganmu dengan dia yang lain. Aku selalu berharap menjadi satu-satunya yang kamu rindukan, satu-satunya yang kamu inginkan hadir dalam mimpi, satu-satunya tempat kamu berbagi lelah. Aku, selalu, berharap.

Aku masih mengingat hari-hari yang berbalut perjuangan agar aku bisa melihat bahagiamu ketika mengenakan toga. Perjuangan ini sederhana.. sesederhana aku menemanimu mendaftar ini dan itu, sesederhana aku mengabaikan lelahku agar revisi mu cepat selesai. Aku menyederhanakannya demi kamu dan masa depanmu.

Aku masih mengingat hari hari yang berbalut kebahagiaan ketika tawa dan canda itu kita bagi bersama. Setelah semua cemburu dan khawatir yang kamu abaikan, aku masih menunggumu memelukku seorang diri. Ungkapan sayangmu padaku yang selalu membuatku kembali berdiri dan tegar untuk kembali menyayangimu.



Aku tidak pernah mengerti, mengapa aku mau dan bisa berbagi kali ini. Bahkan ketika semuanya begitu saja kamu enyapkan, seketika kamu abaikan. Seperti semuanya tidak pernah ada, seperti semuanya hanya sebuah perjalanan yang tidak berharga.
Kamu tau? Aku pernah sebegitu lelahnya mengejarmu, sebegitu lelahnya bertahan dalam ketidakpastian. Tapi hatiku bergumam, “Bukankah bahagia dia yang terpenting?”. Kemudian aku kembali mengurungkan hatiku untuk pergi dan menjauh. Aku ingin selalu melihatmu, meski bukan dengan cara menua bersama.

Terimakasih telah mampir dalam kehidupan wanita yang begitu jauh dari kata sempurna ini. Terimakasih telah memilih aku sebagai tempat persinggahan sementara diantara pilihan persinggahan lainnya. Terimakasih untuk waktu sekejap matanya, terimakasih untuk setiap gelak tawa yang kita bagi bersama. 

Meskipun pada akhirnya, kamu pun harus tiba-tiba pergi dan mengakhiri kita. Meskipun pada akhirnya aku harus merelakan rasa khawatir ku menjadi milik oranglain. Meskipun pada akhirnya aku bukan hanya merelakan genggamanmu, bahkan lebih dari itu bersama dia yang lain. 
Meskipun pada akhirnya aku harus melihat senyumanmu dengan toga kebanggaanmu hanya melalui sebuah potret sederhana. Meskipun bukan tanganku yang kau genggam ketika bahagia itu menjadi nyata. Meskipun bukan keningku yang kamu kecup setelah mengucap janji setia. Meskipun pada akhirnya aku harus melihatmu tersenyum seolah melupakan bagaimana sakitku, dengan dia yang lain. Meskipun pada akhirnya aku harus merelakan ada tangan lain yang dapat merangkulmu kapan saja dia mau. Meskipun pada akhirnya, kisah kita hanya menjadi sebuah cerita yang tersimpan, aku tetap mengucap syukur pernah menjadi bagian dari perjalanan cintamu.